Profil Desa Lame
Desa Lame, Leuwimunding, Majalengka.
"Desa Lame merupakan desa di Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Penguatan layanan dilakukan melalui administrasi terbuka, koordinasi RT/RW, serta pemberdayaan potensi pertanian dan usaha warga."
Arah Pelayanan
Administrasi Terbuka
Menyediakan informasi desa, arsip, dan layanan administrasi yang mudah diakses warga.
Penguatan Ekonomi Lokal
Mendukung kegiatan pertanian, usaha warga, dan pemberdayaan masyarakat sesuai potensi Leuwimunding.
Pelayanan Kewilayahan
Menguatkan koordinasi pelayanan di 2 dusun, 5 RW, dan 18 RT.
Sejarah Desa Lame
Pada abad ke 16, daerah kediaman penduduk yang berada di tepian Sungai Ciwaringin. Mengapa tempat ini disebut Lame? Karena masih tinggal di bawah Pohon Lame yang berada di tanah kepunyaan Bapak Buyut Tarajutisna. Walaupun demikian bagi penduduk Lame tidak menganggap bahwa Buyut Tarajutisna itu sebagai pembagi tanah. Buktinya ketika membuat jalan antara Prapatan-Majalengka mereka mempertanggungjawabkan kepada Buyut Tarajutisna dan mereka berbuat sampai ke Tepi Sungai Cikadongdong. Sebagai ganti pekerja pembuat jalan tersebut, Kanjenjeng Dalem Majalengka R.T Denda Negara meminta kepada Sultan Cirebon memerintahkan Prajurit yang ditampung di sebelah selatan Lame yang sekarang menjadi milik bersama. Akibat kerja paksa tersebut banyak diantara mereka yang meninggal dan dimakamkan di Makam Budak dekat bangunan Buyut Wariyam Bahudenda. Untuk mengatasi persoalan tersebut, muncullah Kanjenjeng Dalem A.A. Kartadiningrat yang menjabat pada Tahun 1848 s/d 1857 menjadi sorotan atasannya karena semakin banyak mengobati para pekerja. Sultan Cirebon mendatangkan Prajurit yang bijaksana bernama Nisajaya yang berdasar dari Waru Gede dekat tepian Cirebon. Beliau disambut hangat di sana. Setelah lama menetap di sana, Gede mengajak mereka yang berada di tepian Sungai Cikadongdong ke Tepi Jalan yang sedang dibuat. Perihal kepindahan ini terjadi 2 kelompok dengan perbedaan pendapat: antara yang mau pindah dan yang tidak mau pindah. Berkat kebijakan Nisajaya akhirnya mereka pun semua sepakat berpindah ke daerah sekitar Pohon Keramat. Di sanalah mereka mulai membangun Alun-alun dan lapangan untuk tempat bermusyawarah. Pada Abad ke 19, terbentuklah Desa Lame dengan "Pohon Keramat" di daerah itu. Ditetapkan pula Bapak Nisajaya sebagai Pimpinan / Kuwu. Yang sekarang dikenal sebagai Buyut Nuisa. Masa kepemimpinan beliau Tahun 1849 s/d 1850 dan digantikan oleh Putranya yang bernama Buyut Gede selama masa kepemimpinannya Tahun 1850 s/d 1851. Dan dilanjutkan jabatannya oleh kakaknya Buyut Wairan pada Tahun 1851 s/d 1852, dilanjutkan cucunya bernama Buyut Dopang dengan masa kepemimpinan Tahun 1852 s/d 1862. Pengaruh Nasionalisme saat itu sudah mulai ada, hal ini diakibatkan adanya Perang Diponegoro. R.A Bahu Denda yang memerintah pada saat itu menetapkan purnatya bernama Singadiwangsa sebagai Kuwu. Selama masa jabatan beliau berhasil membuat Jembatan Cikadongdong. Kemudian Singadiwangsa meninggal dunia, maka terjadilah pemilihan kuwu. Maka terpilihlah putranya yang bernama Arganata dengan masa kepemimpinan Tahun 1902 s/d 1920. Pada masanya beliau bersemangat membangun desa, namun karena adanya perselisihan pemahaman antar kelompok, maka jatuhlah pemerintahan Arganata. Kanjeng Dalem R.A.A Sasra Bahu mengadakan pemilihan dan terpilihlah Bapak Durahman dengan masa kepimpinan pada tahun 1920 s/d 1926. Pada masa kepemimpinan ini beliau mengembalikan sejarah dengan menanam Pohon Lame, Beringin dan Kelor di tengah Alun-alun. ## SILSILAH 1. NISA JAYA (1849-1850) 2. GEDE (1850-1851) 3. WAIRAN (1851-1852) 4. DOPANG (1852-1862) 5. SINGA DIWANGSA (1862-1902) 6. ARGANATA (1902-1920) 7. DURAHMAN (1920-1926) 8. JAGAKARJA (1926-1932) 9. ABAS (1932-1939) 10. ANAM (1939-1945) 11. H. SIRAD (1945-1962) 12. SARTIJAH (1962-1965) 13. CECE (1965-1967) 14. SUWARNA (1967-1980) 15. ATENG (1980-1985) 16. R. MAHMUD AZMI (1988-1998) 17. JALIL KOMARUDIN (1998-2008) 18. HJ. NANA ROHANA (2008-2015) 19. ADE ENDANG SUPRIATNA (2015-2021) 20. AKIP SUMARNA (2021 - Sekarang)
Awal Permukiman
Wilayah Lame dikenal sebagai tempat tinggal masyarakat di sekitar pohon besar di tepian Sungai Ciwaringin.
Masa Pembangunan Jalan
Riwayat lokal mencatat warga Lame pernah menolak kerja paksa pembangunan jalan Prapatan-Majalengka dan berpindah ke tepian Sungai Cikadondong.
Kedatangan Nisajaya
Atas bantuan Sultan Cirebon, Nisajaya datang untuk menata kembali masyarakat Lame dan kemudian dikenal sebagai Buyut Naisa.
Kuwu Pertama
Nisajaya atau Buyut Naisa dituturkan sebagai kuwu pertama Desa Lame, menandai awal tata pemerintahan desa secara lebih teratur.
Desa Lame Sekarang
Desa Lame menjadi bagian dari Kecamatan Leuwimunding, Kabupaten Majalengka, dengan penguatan layanan warga, arsip digital, kegiatan desa, dan transparansi APBDes.
Karakter Wilayah dan Potensi Lokal
Desa Lame memiliki penguatan kearifan lokal melalui Lembaga Adat Bhakti Loka yang mengembangkan kesenian Karinding dan pemberdayaan pemuda. Situs resmi Desa Lame juga mencatat potensi desa berupa kambing, ayam, padi, dan domba sebagai basis ekonomi lokal warga.
Bhakti Loka & Karinding